Hermeneutika dan Cara Berpikir Muslim
July 20, 2010oleh adian husaini
Masih membahas tentang sifat al-Quran menurut kaum liberal. Dalam buku terbitan Gramedia tersebut, al-Quran yang suci dan dijaga oleh Allah adalah al-Quran yang di Lauhil Mahfuzh. Sedangkan al-Quran di dunia ini, yang sekarang dipegang oleh kaum Muslim, sejak awal sudah mengalami kesalahan. Setidaknya, tidak dapat dipastikan seratus persen otentik. Bahkan, Dawam Rahardjo yang memberi kata pengantar buku ini, menulis secara terang-terangan, bahwa al-Quran yang sekarang ini, mungkin saja mengandung kesalahan.
Racun Orientalis, Sangat Berbahaya Meski Sedikit
May 1, 2010Dr Syamsuddin Arief MA: Racun Orientalis, Sangat Berbahaya Meski Sedikit
Diabolis adalah iblis dalam bahasa Yunani kuno. Menurut A Jeffery dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur’an, istilah diabolisme berarti pemikiran, watak dan perilaku ala iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam al Qur’an dinyatakan, iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Inilah penggalan alenia pertama artikel berjudul “Diabolisme Intelektual” karya Dr Syamsuddin Arief MA.
Sebagaimana diketahui, iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud pada Adam. Apakah iblis atheis? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan Allah. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya 100%. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut kafir? Di sinilah persoalannya.
Barat diuntungkan dengan stigma wahabi
September 21, 2009Barat Paling Diuntungkan Stigma Wahabi
“Apa logikanya, membenarkan gerakan trans-nasional non-Islam (Barat) leluasa merangsek ke masyarakat kita, sementara gerakan-gerakan trans-nasional yang Islam malah tidak boleh?”
Hidayatullah.com–SEJAK peristiwa bom Kuningan Juli 2009, istilah Wahabi dan trans-nasional tiba tiba dibicarakan banyak orang. Berbagai stasiun televisi nasional dan media massa sibuk mengutip ucapan beberapa tokoh tentang hubungan teror bom dengan Wahabi.
[.Baca Selengkapnya.]
Ada pembajakan istilah Wahabi dan trans Nasional
Asep Sobari: Ada Pembajakan Istilah “Islam Transnasional” dan “Wahabi”
Hidayatullah.com–Istilah Wahabi dan transnasional mendadak terkenal. Tanpa ada angin dan hujan, ia, tiba-tiba dikaitkan dengan teror bom. Uniknya, yang meluncurkan istilah Wahabi bukan orang yang selama ini dikenal intens ada sangkut-pautnya dengan Islam. Lebih merepotkan, media ikut andil mengkampanyekan stigma itu tanpa mengerti benar apa arti sesungguhnya istilah itu berikut dampaknya. “Ada semacam pembajakan istilah “Islam transnasional” dan “Wahabi” akhir-akhir ini,” kata Asep Sobari.
[.Baca Selengkapnya.]
Musdah Mulia Lesbian
June 10, 2008Oleh : Adian Husaini.
Namanya sudah sangat masyhur. Media massa juga rajin menyiarkan pendapat-pendapatnya. Wajahnya sering muncul di layar kaca. Biasanya menyuarakan aspirasi tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dia memang salah satu aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa buku sudah ditulisnya. Gelar doktor diraihnya dari UIN (dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Gelar Profesor pun diraihnya.
[.Baca Selengkapnya.]
Musdah Bukan Ulama
April 8, 2008Ahmad Zein An Najah, doktor bidang Fikih lulusan Al Azhar Mesir mengatakan, Siti Musdah Mulia bukan ulama, jadi pernyataanya tak perlu diikuti
Dr. Ahmad Zein An Najah, doktor dalam bidang Fikih lulusan Universitas Al Azhar Mesir, mengatakan, bahwa Musdah Mulia bukanlah seorang ulama, sehingga perkataannya tidak perlu dijadikan panutan. Pernyataan pengurus DDII pusat disampaikan setelah membaca pernyataan aktivis liberal itu dalam sebuah Koran berbahasa Inggris terbitan Jakarta yang mengatakan, Islam mengakui adanya homoseksualitas.
Sebagaimana diketahui, Harian The Jakarta Post, edisi Jumat (28/3) pada halaman mukanya menerbitkan sebuah berita berjudul Islam ‘recognizes homosexuality’ (Islam mengakui homoseksualitas).
Dengan mengutip pendapat dari Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, guru besar di UIN Jakarta, koran berbahasa Inggris itu menulis bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. (Homosexuals and homosexuality are natural and created by God, thus permissible within Islam).
Menurut Zein, Siti Musdah Mulia bukanlah seorang ulama. Karenanya, pernyataanya tak perlu diikuti. Sebab menurut Zein, seorang ulama adalah orang yang berilmu, dan takut kepada Allah Ta’ala, serta berbicara menurut kaidah ilmiah. “Sedang Siti Musdah Mulia tidak seperti itu, “ ujarnya kepada hidayatullah.com.
[.Baca Selengkapnya.]
UIN menghalalkan Homosexual??
Oleh : Adian Husaini.
Harian The Jakarta Post, edisi Jumat (28/3/2008) pada halaman mukanya menerbitkan sebuah berita berjudul Islam ‘Prof. Dr. Siti Musdah Mulia
, guru besar di UIN Jakarta, koran berbahasa Inggris itu menulis bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. (Homosexuals and homosexuality are natural and created by God, thus permissible within Islam).
[.Baca Selengkapnya.]
Homoseksual dan Lesbianisme
oleh Archa (*)
Seolah tidak ada henti-hentinya ‘mengusik’ ketenteraman umat Islam, sekali lagi kelompok Islam Liberal melalui Prof. Dr. Siti Musdah Mulia kembali mengutarakan pendapat berani, kali ini tentang homoseksual dan lesbianisme. Pendapat ini dilontarkan dalam suatu diskusi hari Kamis 27 Maret 2008 yang diorganisir oleh ‘Arus Pelangi’ yang memang merupakan kelompok yang berisi orang-orang berperilaku homoseksual dan lesbian.
Hermeneutika dan Fundamentalisme
Oleh: Adian Husaini
Dosen IAIN mengatakan, ciri fundamentalis adalah orang-orang yang menolak ‘hermeneutika’. Kok bisa?.
Ahad (9/12/2007) lalu, di Solo, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta memberi saya sebuah buku berjudul “Is Religion Killing Us? (Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel dan al-Qur’an)”. Sudah cukup lama saya memiliki edisi bahasa Inggris buku karya Jack Nelson-Pallmeyer tersebut. Banyak hal bisa dikritisi dari isi buku ini, karena penulisnya sudah menggugat kesucian teks Al-Quran. Misalnya, penulis berkesimpulan, bahwa ”Masalah Islam yang identik dengan kekerasan tidak hanya sebatas adanya ketidaksesuaian teks-teks, tetapi berakar pada banyaknya ayat-ayat dalam Qur’an yang melegitimasi kekerasan, peperangan dan intoleransi.” (hal. 165). [.Baca Selengkapnya.]

