Pluralisme Berlagak Wasit Agama

January 6, 2006

»»Pluralisme Berlagak Wasit Agama««

Bagi saya ide pluralisme merupakan kotoran yang menjijikan. Alasan saya adalah:

Pertama: Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleran karena menafikan kebenaran ekslusif sebuah agama.

Mereka menafikan klaim “paling benar sendiri” dalam suatu agama tertentu, tapi justru pada kenyataannya kelompok pluralis-lah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statement keagamaan (religious statement).

Jadi misalnya dalam pertandingan sepak bola, mereka ini ibaratnya sebagai wasit, tapi dalam waktu yang sama wasit yang seharusnya memimpin pertandingan kok malah ikut main. Dan ini kan repot jadinya. Mereka mestinya tahu aturan dan batasan-batasan main yang benar, kalau memilih jadi wasit, jadilah wasit yang adil, dan kalau memilih jadi pemain, ya jadilah pemain yang benar. Dan perlu diingat bahwa: any statement about religion is religious statement. Dan ini mereka tidak sadar.

Kedua: adanya “pemaksaan” nilai-nilai dan budaya barat (westernisasi) terhadap negara-negara di belahan dunia bagian timur, dengan berbagai bentuk dan cara, dari embargo ekonomi sampai penggunaan senjata dan pengerahan militer secara besar-besaran seperti yang tengah menimpa Irak saat ini.

Bagaimana Pluralsime menjadi tidak toleran?
Mereka merelatifkan tuhan-tuhan yang dianggap absolute oleh kelompok-kelompok lain seperti Allah, Trinitas, Yahweh, Trimurti, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga mengklaim bahwa hanya tuhan mereka sendiri yang absolute. Tuhan yang absolute menurut mereka ini namanya, seperti yang diusulkan John Hick, adalah “The Real” yang kebetulan ia dapatkan padanan katanya dalam Islam sebagai “Al-Haq”.

Nah menurutnya, nama-nama Tuhan dalam berbagai agama hanyalah sebagai manifestasi dari “The Real” ini. Oleh karena itu, semua orang harus mengimani tuhannya John Hick ini. Jadi pada hakikatnya, tanpa sadar mereka telah membangun absolutisme-nya sendiri.

Di sinilah saya katakan, alih-alih jadi wasit tapi terseret jadi pemain, sehingga menambah jumlah pemain yang saling berkompetisi di lapangan. Jadi pemikiran pluralisme agama itu sangat sarat dengan self-inconsistent.

Selain ide the Real-nya John Hick, William James juga idenya republican banquet. Setiap pluralisme selalu mengandaikan adanya a host culture atau tuan rumah budaya yang menerima dan menjamu semua budaya yang datang (visiting cultures).

Jadi, posisi pluralisme bagaikan tuan rumah yang menyajikan hidangan kepada para tamunya yang berasal dari berbagai macam agama, ras dan suku yang berbeda. Sebagai tuan rumah dia (pluralisme) harus memperlakukan tamunya dengan ramah, adil dan tidak boleh mengecewakan tetamunya.

Tapi nyatanya mereka malah bertindak tidak adil, tidak ramah dan seringkali memaksakan kehendaknya pada para tamunya.

Itulah hal yang menjijikan dari pluralisme dan merupakan kelemahannya

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://militan.blogsome.com/2006/01/06/pluralisme-berlagak-wasit-agama/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>