DOSENKU KEBLINGER

January 7, 2006

»»DOSENKU KEBLINGER««

Saat itu saya mengikuti kuliah tafsir alqur’an, saya kesal dengan ucapan dosen pengampu yang berkata :” metode tafsir ‘klasik’ al-Quran tidak perlu digunakan lagi karena metode tafsir tradisional sangat ‘ahistoris’ (mengabaikan konteks sejarah) dan ‘uncritical’ (tidak kritis), Kita perlu mencari alternatif ilmu tafsir pengganti yang cocok untuk saat ini yaitu hermeneutika ”

Astaghfirullah !!! saya hanya bisa berucap melalui lisan dan hati,Muak mendengar hujatan, caci makian dari mulut kotor itu.

Beberapa teman melontarkan pertanyaan:” Tafsir yang mana? dan “sebagian besar” itu berapa banyak? Sekarang ada ribuan tafsir Al-Qur`an. Yang mana yang sudah dibaca para pengritik tafsir lama itu?

“Saya katakan semua kitab klasik “ahistoris” dan perlu ditinggalkan kita ganti dengan kitab tafsir hasil metode hermeneutika” jawab dosen.

Setiap saya mendebat peryataan-peryataannya selalu saja stigma-stigma negatif yang dilontarkan pada saya. Stigma kolot,bodoh, tidak modern dan fundamentalis itu yang saya terima.

Apa yang saya bisa perbuat menghadapi dosen yang ekstrem begini. Ekstrimis sekali dosen tersebut menganggap semua metode dari barat selalu yang terbaik,”Latah” picik.

Kita mengenal bahwa ulama-ulama salaf semacam mempunyai tingkat keilmuan yang luas dan mendalam. Dan tidak sembarangan dalam menulis kitab tafsir Al-quran karena ada syarat-syarat yang ketat.

Untuk layak menafsirkan al-Qur’an, anda harus menguasai bahasa Arab dan literatur hadis secara mendalam dan komprehensif, tidak setengah-setengah atau sepotong-sepotong. Jika prasyarat ini sudah terpenuhi, anda disarankan mengikuti prosedur yang berlaku: menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, dan atau menafsirkan ayat al-Qur’an dengan Sunnah/hadis Rasulullah SAW, dan atau menafsirkannya dengan keterangan para mufassirin dari kalangan Sahabat, Tabi‘in, dan para ulama salaf. Demikian ditegaskan oleh Imam as-Suyuti dalam kitabnya, at Tahbir fi ‘Ilmi t-Tafsir (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hlm. 128-9.

Menafsirkan al-Qur’an bukanlah perkara ringan dan sepele. Tidak sembarang orang bisa dan bebas melakukannya. Nabi Muhammad SAW, yang kepadanya kitab suci itu diwahyukan, pernah bersabda: “Siapa saja yang mengatakan sesuatu mengenai al-Qur’an tanpa landasan ilmu (bi-ghayri ‘ilm) atau dengan opininya sendiri (bi-ra’yihi), maka ia telah memesan tempat duduknya di neraka” (HR Imam Tirmidzi).

Memang saat ini mulai muncul gejala umum yang mengkhawatirkan, yakni mudahnya mengambil dan meniru metodologi pemahaman al-Quran dan al-Sunnah yang berasal dari pemikiran dan peradaban asing. Gerakan ‘impor pemikiran’ semakin gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic Studies. Sayangnya, tidak banyak yang memiliki sikap ‘teliti sebelum membeli’ gagasan-gagasan impor yang sebenarnya bertolak-belakang dengan dan berpotensi menggerogoti sendi-sendi akidah seorang Muslim.

Pada dasarnya, hermeneutika adalah metode tafsir Bible, yang kemudian dikembangkan oleh para filosof dan pemikir Kristen di Barat menjadi metode interpretasi teks secara umum. Oleh sebagian cendekiawan Muslim, kemudian metode ini diadopsi dan dikembangkan, untuk dijadikan sebagai alternatif dari metode pemahaman al-Quran yang dikenal sebagai “ilmu tafsir”.

Jika metode atau cara pemahaman al-Quran sudah mengikuti metode kaum Yahudi-Nasrani dalam memahami Bible, maka patut dipertanyakan, bagaimanakah masa depan kaum Muslim di Indonesia?

Kita akan menyaksikan “Intelektual keblinger” alumni IAIN/UIN atau yang lain berlaku nyeleneh menghujat alqur’an dan assunnah semakin banyak.Mufasir-mufasir palsu dan liar akan bermunculan. Waspadalah..jaga aqidah anda

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://militan.blogsome.com/2006/01/07/dosenku-keblinger/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>