Taklid Buta
January 7, 2006»» Taklid Buta Penganut Hermeneutika««
Hari ini saya telah membaca buku “Hermeneutika Pembebasan” karyaIlham B Saenong. Saya cukup miris dengan hujatan-hujatan yang ada dibuku itu terhadap karya ulama-ulama salaf. Ditulis dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. ” (Lihat, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10).
Saya tidak terlalu heran dengan tuduhan-tuduhan para pengusung metode hermeneutika ini.Mereka menuduh ulama klasik mempunyai kepentingan”politik” dalam membuat tafsir. Dan mengklaim penganut taklid hermeneutika bebas dari berbagai unsur kepentingan.
Klaim bahwa Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Arkoen, Nasr Hamid,(penganut hermeneutika) dan sebagainya “bebas dari kepentingan” dibandingkan dengan mufassir klasik, sangatlah tidak ilmiah
Jadi, ketika mereka menolak taklid kepada para imam besar, di saat yang sama mereka justru melakukan taklid kepada pemikir modernis atau post-modernis, Muslim atau non-Muslim.
Dalam hal hermeneutika juga demikian. Berbagai buku tentang hermeneutika dan aplikasinya dalam pemikiran Islam, menunjukkan adanya fenomena rujukan (taklid) pada pemikiran Scleiermacher dan Dilthey, untuk hermeneutika teoritis; taklid kepada orang seperti Gadamer untuk hermeneutika filosofis; atau taklid kepada Jurgen Habermas untuk metode hermeneutika kritis. Metode-metode tafsir mereka itulah yang dianggap lebih tepat untuk menafsirkan al-Quran, ketimbang metode para ulama tafsir.
Sebenarnya para ulama Islam sejak dulu telah mengembangkan sikap kritis, tidak apriori terhadap pemikiran-pemikiran asing. Namun, mereka tidak menempatkan dan memahami Islam dalam kerangka dan sistem epistemologis yang berbeda dengan Islam. Sebab, Islam bukan hanya al-Quran dan Sunnah, tetapi juga cara memahami (epistemologis) kedua sumber utama Islam itu.
“Cara memahami” adalah hal yang sangat vital. Di sinilah perlunya masalah hermeneutika didudukkan dengan serius. Sebab, istilah dan metodologi ini bukan berasal dari tradisi Islam. Sebagai contoh, hermeneutika teoritis menekankan faktor “kecurigaan” terhadap penafsir awal, sedangkan hermeneutika kritis justru menekankan kecurigaan terhadap teks itu sendiri.
Contoh Kesalahan Metode Hermeneutika
Sebagian perumus teori hermeneutika, mengajukan gagasan “pemisahan teks dari pengarangnya” sebagai upaya untuk memahami teks dengan lebih baik. Bahkan, orang seperti Scleiermacher mengajukan gagasan tentang kemungkinan penafsir dapat memahami lebih baik dari pengarangnya. Jika gagasan ini diterapkan untuk al-Quran, siapakah yang mampu memahami Al-Quran lebih baik dari Allah SWT atau Rasul-Nya?
Inilah yang disesalkan banyak cendekiawan Muslim terhadap gagasan Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa al-Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafy).
Dengan menganggap Al-Quran semata-mata adalah produk budaya, karya sastra biasa, atau sekedar teks linguistik seperti teks-teks lainnya, maka itu berarti telah memisahkan al-Quran dari “Pengarangnya”, yaitu Allah SWT.
Padahal, sebagai kalam Allah, Al-Quran adalah tanzil. Redaksinya pun berasal dari Allah SWT. Dia memang bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab biasa. Dia adalah wahyu. Karena wahyu, maka manusia yang paling memahami maknanya adalah Rasul-Nya dan orang-orang yang sezaman dengannya (para sahabat).
Jika teks Al-Qur`an dicerabut dari penjelasan Rasulullah SAW dan diletakkan dalam konteks paradigma “Marxis”, maka maknanya tentu bisa berubah secara mendasar. Jika Allah mengharamkan babi, lalu dianalisis secara sosial-budaya ketika itu, maka akan bisa disimpulkan secara hermeneutis, bahwa babi haram karena dagingnya enak dan tidak ada di Arab.
masyarakat baduy gurun di Arab; alasan muslimah haram kawin dengan laki-laki non-muslim karena masyarakatnya didominasi laki-laki; jilbab hanya wajib untuk daerah Arab karena iklimnya panas dan berdebu; khamr haram hanya di daerah panas; homoseksual haram karena ketika itu belum ada HAM; dan sebagainya.
Berbagai pemahaman nyeleneh seperti di atas, akan terus bermunculan apabila hermeneutika digunakan dalam menginterpretasikan Al-Qur’an. hermeneutika ilmu sesat
Sayang sekali di UIN telah diterapkan metode Hermeneutika. Saya hanya berucap “inilah musibah yg dilancarkan kaum liberalis”

alhamdulillah..tulisan akhi sangat membantu suami ana. kebetulan virus JIL sedang mewabah di sini (thailand). susah sekali menjelaskan kalo mrk sudah tdk percaya bhw hadits sekalipun sohih. mohon bantuan counter tulisan dari web site www.submission.com yg isi intinya cenderung ingkar sunnah. jazakalloh khoiron. kebetulan suami lagi sibuk ngejar ddeadline paper, jd ana hrs bantu dia utk menjawab pertanyaan2 teman2 di sini.
Comment by luluk — May 17, 2006 @ 9:15 am