Kemunafikan Dalam Seni Peran
January 30, 2006Kemunafikan Dalam Seni Peran
Sekitar satu bulan lalu, seorang pemain sinetron harus berurusan dengan para aktivis muslim. Pasalnya, sang artis yang tak jarang berperan sebagai anak ‘shalih’ dalam sinetron-sinetron religius, tiba-tiba berpose mengejutkan dalam sebuah pameran foto. Atas nama seni, dia rela telanjang bersama seorang wanita. Hebohnya, gambar yang merupakan paduan antara foto dan lukisan itu bertajuk ‘Adam dan Hawa’.
Kontan, ini membuat FPI meradang, tuduhan pornografi dan pelecehan terhadap agama dilontarkan. FPI menuntut agar sinetron religius yang dibintangi artis tersebut harus distop.
Ada sisi yang layak kita cermati di balik kasus menghebohkan itu. Bagaimana seseorang sampai hati tampil dengan dua peran yang sangat diametral. Satu kali tampil di media dengan telanjang mengumbar aurat. Pada kali lain tampil dengan pakaian santri.
Dia tidak sendirian, tahun lalu seorang artis yang membintangi salah satu sinetron bulan Ramadhan sebagai orang shalih padahal ternyata biasa melakukan hubungan suami istri sebelum nikah. Kasus senada lumayan banyak terjadi. Jawabannya kelihatan mudah, karena tuntutan skenario, tuntutan profesi. Segampang itukah?
Bermuka Dua
Allah menggambarkan keadaan orang munafik yang hobi bermuka:
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (QS al-Baqarah: 14)
Di hadapan orang mukmin dia berkata mukmin, di hadapan orang kafir maupun fajir dia pun mengaku sebagai kelompoknya, dan mengatakan bahwa perilakunya di hadapan orang-orang mukmin itu hanyalah berpura-pura, hanya main-main, tidak sungguhan.
Meski tidak sama persis, namun sangat mirip gambaran tersebut dengan orang yang berpenampilan shalih di hadapan penonton yang muslim, lalu berpenampilan jorok ketika diminta temannya yang lain untuk tampil jorok. Andai saja ia ditegur temannya, “Bukankah kemarin kamu seperti santri?” Bisa jadi dia akan menjawab, “Ah, itu kan hanya sinetron, tidak sungguhan?” Sebaliknya, jika ditanya teman yang lainnya, “Mengapa kamu berpenampilan seronok?” Mungkin dia akan mengatakan, “Itu kan hanya seni?”
Yang sulit dinalar, ketika mereka telah memerankan orang shalih, rajin shalat, menutup aurat dan menampakkan pancaran iman, tapi kemanakah iman itu melayang saat mereka berpose norak pada kesempatan yang lain. Mungkin karena khilaf, tapi mengapa umumnya terus berulang? Jawabannya kembali pada kalimat “tuntutan skenario.”
Nabi juga mencela perilaku orang bermuka dua,
“Dan kamu dapatkan seburuk-buruk manusia pada hari kiamat di sisi Allah, adalah orang yang bermuka dua, dia mendatangi satu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum yang lain dengan wajah yang lain pula.” (HR. Bukhari)
Abu Dawud juga meriwayatkan bahwa orang yang bermuka dua di dunia nanti akan diberi dua lidah dari neraka.
Terlalu Mahal Agama Dijual
Seberapakah kenikmatan yang didapat oleh orang yang tunduk dengan tuntutan skenario hingga berani menjual agamanya? Seakan agama seperti busana yang bisa dilepas dan diganti sesukanya. Termasuk juga yang menyediakan diri untuk dilaknat Allah dan rasulnya, yakni laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan sebaliknya. Betapa banyak jumlah bintang yang memerankan tokoh semisal ini. Adakah mereka belum mendengar hadits Nabi n,
“Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak seperti wanita dan wanita yang berlagak seperti laki-laki.” (HR. Bukhari)
Mungkin hak mereka untuk melakukan semua itu. Tapi menjadi kewajiban kita untuk mencegah kemungkaran yang kita lihat. Juga mengingatkan umat akan penyimpangan yang mereka lakukan. Apalagi mereka melakukan terang-terangan di depan publik.
Tidak Layak Dipercaya
Tulisan ini bukan bermaksud mengajak ber-su’uzhan (buruk sangka), tetapi hadzar (waspada), karena fenomena itu sangat umum dan banyak fakta serupa. Su’u zhan dan hadzar adalah dua hal yang berbeda. Seperti jika ada orang mendatangi Anda tanpa gelagat apapun, maka Anda dianggap su’uzhan jika menyangka orang itu hendak mencelakai Anda. Tetapi jika Anda waspada terhadap orang yang mendatangi Anda dengan membawa senjata, inilah hadzar, bukan su’u zhan.
Ayat dan hadits menjelaskan tipe orang yang bermuka dua, sekaligus menuntut bagaimana harus bersikap kepada mereka. Nabi n melarang kita memberikan amanah kepada pemilik dua wajah. Nabi n bersabda,
“Tidak layak orang yang bermuka dua diberi suatu kepercayaan.” (HR. Abu Dawud)
Karena dia paling pandai (baca:berani) berpura-pura, bagaimana layak untuk dipercaya? Akankah kita mengambil pesan-pesan agama yang dibawa oleh orang bermuka dua? Wallahul Muwaffiq (Abu Umar A)
