IAIN, Fa aina Tadzhabun?

November 23, 2006

IAIN Mau Dibawa Kemana?

IAIN, Fa aina Tadzhabun?
Oleh Hartono Ahmad Jaiz

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ(110)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali ¡®Imraan/ 3: 110).

Amar ma’ruf itu, puncak ma¡’ruf adalah tauhid, sedang nahi munkar itu puncak kemunkarannya adalah syirik. Dan mereka itu keadaannya beriman kepada Allah swt.

Itulah masyarakat Muslim di bawah bimbingan dan pendidikan Rasulullah saw. Bagaimana mereka bisa jadi umat terbaik, cara mendidiknya pun dijelaskan Allah:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ(2)

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS Al-Jumu¡¯ah/ 62: 2).

Cara membimbing dan mendidik kaum yang buta huruf itu dengan dibacakan Al-Qur¡¯an, mereka mendengarkan, menghafalkan, mengamalkan atas contoh yang dilaksanakan Rasulullah saw. Dan Rasul saw membersihkan mereka dari Syirik (menyekutukan Allah dengan yang lainnya), menurut Tafsir Al-Jalalain. Kemusyrikan dibersihkan, diganti dengan ketauhidan itu satu hal yang sangat besar, mengubah dari jurusan neraka ke jurusan surga. Dan Rasul saw mengajari mereka Al-Qur¡¯an dan As-Sunnah. Di sini membacakan Al-Qur¡¯an itu pertama-tama yang ditempuh, masih pula mengajarkannya, dengan memahamkannya. Sehingga di samping dibaca dan dihafal, masih pula difahamkan dan diamalkan.

Dengan pendidikan seperti itu ternyata para sahabat Nabi saw itu menjadi manusia-manusia unggul bahkan sebaik-baik umat, yang dilahirkan untuk manusia.

Maka benarlah ungkapan Imam Malik,

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

Umat yang belakangan ini tidak menjadi baik kecuali (dengan) apa yang telah menjadikan baiknya umat pertama. (Ibnu Taimiyyah, Ar-Raddu ¡®alal Bakri, Talkhish Kitab al-Istighotsah, Maktabah Al-Ghuroba¡¯ al-Atsariyah, Madinah, cet 1, 1417H, tahqiq Muhammad Ali Ajal, halaman 137). Tak lain adalah dengan dibacakan ayat-ayat Allah, dibersihkan dari syirik, diajari Al-Qur¡¯an dan As-Sunnah dengan pengajaran yang konsekuen, yaitu cocoknya perbuatan dengan ilmu atau ilmu disertai amal. Bukan sekadar ilmu, dan bukan pula amal tanpa ilmu.

Perbandingan
Mari kita bandingkan dengan pendidikan sekarang, terutama di perguruan tinggi Islam di Indonesia (IAIN, UIN, STAIN, STAIS, dan Fakultas Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum).

Pengajaran ilmu di perguruan tinggi Islam di Indonesia di antaranya, pertama, membredel sistem hafalan ayat-ayat dan hadits-hadits, terutama setelah Harun Nasution mengubah kurikulum IAIN se-Indonesia sejak 1975-an. Harun Nasution sering mengkritik apa yang dia sebut metode hafalan. Akibatnya fatal, mahasiswa ketika dijejali ajaran atau pendapat yang bertentangan dengan Islam bahkan sangat sesat, mereka tidak tahu kesesatannya, karena tidak hafal ayat-ayat dan hadits. Ini sangat berbeda dengan pendidikan yang dilaksanakan Rasulullah saw, yang para sahabatnya menghafal Al-Qur¡¯an, bahkan sabda-sabda Rasul saw.

Kedua, menggeser aqidah Tauhid kepada pluralisme agama, menyamakan atau menyejajarkan semua agama, semua dianggap sama-sama menuju kepada keselamatan, hanya beda teknis. Ini berarti memadamkan ruh Islam yang paling asasi yaitu tauhid, dan diganti dengan kepercayaan lain yang bertentangan dengan Islam sama sekali, yaitu kemusyrikan. Sehingga begitu teganya, Harun Nasution mengajarkan kemusyrikan lewat bukunya, Islam Dipandang Dari Berbagai Aspeknya. Hingga Prof HM Rasjidi menyorotinya sbb: Karangan Dr. Harun Nasution yang diwajibkan untuk dipelajari mahasiswa IAIN adalah buku yang penuh fikiran kaum orientalis yang beragama kristen.

Pernyataan bahwa Tuhan tidak perlu ditakuti tetapi dicintai, adalah kata Kristen.

Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu adalah fikiran comparative religious yang ditimbulkan oleh orang-orang yang mengaku berdasar ilmiyah dengan tidak berguna sedikit pun.

Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke sisi yang Maha Suci, adalah expresi Kristen, pengaruh dari Neo Platonisme dan Gnosticisme.

Injil adalah teksnya bukan wahyu, yang wahyu adalah isi atau arti yang terkandung dalam teks itu. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang lebih Kristen dari pada teolog-teolog Kristen. Orang Kristen mengatakan bahwa wahyu adalah yang mendorong penulis-penulis Injil untuk menulis Injil masing-masing, adapun isinya banyak yang salah, karena manusia tak luput dari kekhilafan.

Tidak dapat diketahui dengan nama pasti mana Hadits yang betul berasal dari Nabi dan mana yang dibuat-buat. Ini adalah pendapat Goldziher, seorang Yahudi dari Hongaria.

Istihsan yang dibawa oleh Abu Hanifah, Al Masalih Al Mursalah yang dicetuskan oleh Malik bin Anas ditolak oleh Al-Syafi¡¯i, Qiyas yang dicetuskan oleh Al-Syafi¡¯i ditolak oleh Ibn Hazm Al-Zahiri. Pintu ijtihad ditutup. Semua itu merupakan gambaran suram tentang hukum Islam ditulis oleh seorang sarjana Islam. Sedang ahli hukum di Prancis mengeluarkan pernyataan dalam konperensi hukum Islam di Paris sebagai berikut:
- Para peserta Kongres merasa tertarik oleh problema-problema yang dilontarkan dalam Minggu Hukum Islam dan oleh diskusi mengenai problema tersebut, serta mendapat kesimpulan yang terang bahwa prinsip Hukum Islam mempunyai nilai yang tak dapat dibantah, dan bahwa variasi aliran-aliran dalam hukum Islam mengandung kekayaan-kekayaan ilmu hukum yang istimewa yang memungkinkan hukum ini untuk melayani hajat penyesuaian dalam kehidupan modern, (dikutip dari ¡°Hukum Islam dan Pelaksanaannya dalam Sejarah¡±, terbitan Bulan Bintang 1976).

¡°Sementara itu Islam dalam sejarah mengambil bentuk ketatanegaraan¡±. Ini adalah konsep Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa tak mengandung konsepsi tentang negara Kristen.

Pemikiran pembahasan modernisasi mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama agar disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan modern. Pembaharuan dapat dilakukan mengenai interpretasi atau penafsiran aspek teologi, hukum dan seterusnya dan mengenai lembaga-lembaga.¡± ¡°Ini semua berarti bahwa yang ada di Barat itu semua benar dan sempurna. Dan oleh karena Umat Islam tak dapat meninggalkan Al-Qur¡¯an dan Hadits, maka diperlukan interpretasi baru tentang ayat-ayat, apalagi ayat-ayat itu banyak yang dubious.”

Dengan begitu maka yang mutlak adalah yang terjadi di Barat yang beragama Kristen. Kita yang beragama Islam hanya dapat memberikan interpretasi baru kepada ayat-ayat Al-Qur¡¯an.”

Hal tersebut adalah fikiran orang yang belum yakin akan keunggulan isi Al-Qur¡¯an dan belum sadar akan kelemahan dan bibit-bibit kehancuran yang sekarang tumbuh di Barat.¡±.

Akhir kata
° Semula kita, Umat Islam Indonesia menginginkan generasi muda yang mahir dalam ilmu ke-islaman, bahasa Arab, Al-Quran, Syari¡¯ah, Tauhid, dan lain-lain. Di samping itu mereka harus mengetahui ilmu-ilmu baru: Sosiologi, Hukum dan Filsafat dan lain-lain.”

° Buku Dr Harun Nasution menunjukkan bahwa sekarang ada di antara kita yang terpengaruh oleh metode orientalis Barat sehingga menganggap Islam sebagai suatu gejala masyarakat yang perlu menyesuaikan diri dengan peradaban Barat.”

° Dengan begitu akan hilanglah identitas Islam kita, dan akan hilanglah kekuatan jiwa yang kita peroleh dari Al-Qur¡¯an.

° Buku Dr Harun Nasution telah membantu terciptanya masyarakat semacam itu, masyarakat modern yang segala-galanya di dalamnya benar, dan Agama Islam harus diubah penafsirannya sehingga sesuai dengan peradaban Barat itu.”

° Aku berdo¡¯a kepada Allah SWT mudah-mudahan tulisan ini dapat menghindarkan bahaya yang besar itu!”

° Ya Allah, janganlah Engkau menyesatkan hati kami setrelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisiMu, sungguh Engkau Maha Pemberi!¡± (Prof Dr HM Rasjidi, Koreksi terhadap Dr Harun Nasution tentang ¡°Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, halaman 150, Bulan Bintang, Jakarta, 1977).

Ketiga, pengubahan kurikulum oleh Harun Nasution didukung oleh Mukti Ali, Menteri Agama RI, yang Mukti Ali itu kemudian ternyata adalah pembela dan pemberi kata pengantar buku Catatan Harian Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, tahun 1980-an, yang isinya menentang ajaran Islam, di antaranya Karl Marx yang atheis dinyatakan surganya surga tertinggi bersama Nabi Muhammad saw.

Harun Nasution mengakui, dia memang mendapatkan dukungan dari Menteri Agama untuk menerapkan ide-idenya. Kata Harun: ¡°Naiknya Golkar ke pentas politik dalam pemilu 1971, membuat situasi agak goncang. NU turun ke bawah. Departemen Agama tidak di tangan kita lagi, tetapi berada di tangan teknokrat. Tapi tak seperti diduga semula. Ternyata Prof. Dr. Mukti Ali diangkat sebagai Menteri Agama menggantikan KH. Moh. Dahlan. Berarti aku sudah sealiran dengannya.¡± Harun mengaku, sebenarnya banyak dosen IAIN yang tidak setuju dengan pemikiran dan langkah-langkahnya. Tetapi, mereka segan berbicara. ¡°Barangkali karena di belakangku ada Menteri Agama,¡± katanya. (Lihat, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution¡± (Jakarta : LSAF, 1989), hal. 31. Juga, Abdurrahman dkk. (ed), 70 Tahun H.A. Mukti Ali: Agama dan Masyarakat, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1993).

Hery Sucipto menulis di Republika, mengenai Harun Nasution mengubah kurikulum IAIN se-Indonesia dilakukan saat dia menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1973 (kini Universitas Islam negeri/UIN). Saat itu, secara revolusioner dia merombak kurikulum IAIN seluruh Indonesia. Pengantar ilmu agama dimasukkan dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa. Demikian pula filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, dan metodologi riset. Menurut dia, kurikulum IAIN yang selama ini berorientasi fikih harus diubah karena hal itu membuat pikiran mahasiswa jumud. Sedang gebrakan ketiga, bersama menteri agama Harun mengusahakan berdirinya Fakultas Pascasarjana pada 1982. Menurutnya, di Indonesia belum ada organisasi sosial yang berprestasi melakukan pimpinan umat Islam masa depan. Baginya pimpinan harus rasional, mengerti Islam secara komprehensif, tahu tentang ilmu agama, dan menguasai filsafat. Filsafat, ujarnya, sangat penting untuk mengetahui pengertian ilmu secara umum. Pimpinan seperti itulah yang diharapkannya lahir dari Fakultas Pascasarjana. (DIALOG JUM¡¯AT (Republika), Jumat, 19 September 2003).

Perlu diketahui, Mukti Ali yang mendukung perombakan kurikulum IAIN itu adalah pembela dan pemberi kata pengantar buku Yang lebih menghebohkan tetapi kurang berisi dan berbobot, Pergolakan Pemikiran Islam karya Ahmad Wahib, diterbitkan oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), Jakarta.

Buku ini mendapat reaksi demikian ramainya dari kalangan tua dan muda dari pusat sampai daerah. Disunting oleh dua orang aktivis Pemuda Islam, Djohan Effendi dan Ismed Natsir.

Prof Dr HM Rasjidi tidak begitu bersemangat berbicara tentang isi buku tersebut, karena itu hanyalah catatan harian pribadi Ahmad Wahib yang tidak pantas diterbitkan untuk umum.

Itu suatu tragedi yang merupakan halaman yang suram dalam kehidupan Islam di zaman Orde Baru ini. (Panji Masyarakat, No. 346, Jakarta). Yang diserang dan disesalkannya ialah penyuntingnya, Djohan Effendi dan pembuat kata pengantarnya, Prof Dr H Mukti Ali. Serangan kepada Mukti Ali lebih keras dan lebih tajam, karena beliau itu bekas Menteri Agama RI yang sama sekali tidak patut menyambut dan turut menghidangkan buku itu ke tengah masyarakat Islam yang sudah diserang dari segala penjuru itu. Cuma ada sesuatu yang baru bila Prof Dr Rasjidi menyebut dan menuliskan nama Mukti Ali. Tidak kurang dari 8 kali nama Mukti Ali disebut-sebut dengan variasi yang berbeda-beda. Empat kali tanpa memakai gelar Prof. Dr. Empat kali pula dengan menyebutkan Prof. Dr. , di antaranya dua kali diberi keterangan dalam kurung seperti ini: Prof. (DR) HA Mukti Ali. (Sekali lagi, DR dalam tanda kurung saya pinjam dari tuan Husserl), kata Rasjidi. Apakah barangkali beliau meragukan titel DR nya Mukti Ali? Wallahu a¡¯lam. Sebagaimana diketahui, bahwa Mukti Ali pernah kuliah di Canada, sedang Rasjidi pernah lima tahun menjadi dosen di sana.

Rasjidi sendiri memang sengaja begitu. ¡°Yang saya serang itu ¡®kan kata pengantarnya,¡± katanya kepada Tempo. ¡°Saya sendiri tidak apa-apa dengan almarhum Wahid. Ia sudah meninggal, dan mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosa-dosanya, sudah begitu saja. Saya hanya mau bikin kapok orang yang melindungi cara berfikir seperti Wahib itu.¡± Dan yang dimaksudnya, tak lain tak bukan, Prof. Mukti Ali. Ialah yang memberi kata pengantar dan ¡°pelindung¡±.(Tempo, No. 48, 1982).

Nurcholish Madjid mengisi muatan kemusyrikan
Peran Nurcholis Madjid di IAIN terutama Jakarta pun tampak menonjol. Seolah Harun Nasution sebagai pembuat system dan pengelola, sedang Nurcholish Madjid sebagai pemasok, hingga system itu berisi muatan yang diinginkan, yaitu kembali kepada jahiliyah bahkan lebih jahil lagi.

Nurcholish Madjid menulis: ¡°Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu Agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relatif sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan”.¡± (Buku Tiga Agama Satu Tuhan, (Bandung: Mizan, 1999), hal. xix). Pada tempat lain, ia menulis: “Jadi Pluralisme sesungguhnya adalah sebuah Aturan Tuhan (Sunnat Allah, “Sunnatullah”) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.” (Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), hal. lxxvii).

Coba kita bandingkan dengan logika orang jahiliyah yang mengakibatkan turunnya ayat ini:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ(121)

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An¡¯aam: 121).

Syetan membisiki atau membujuk kepada teman-teman setianya yaitu orang kafir dan lainnya untuk membantah kamu untuk menghalalkan bangkai, kalau kamu mengikutinya maka kamu jadi musyrik.

Ibnu Jarir mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata, turun ayat (yang artinya) Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya , orang Parsi mengirim utusan ke kaum Kuraisy untuk membantah Muhammad, mereka berkata kepadanya, apa yang kamu sembelih sendiri dengan tanganmu pakai pisau maka dia halal, tetapi apa yang Allah sembelih dengan pisau dari emas yakni bangkai maka dia haram.

Lalu turun ayat ini, (yang artinya) Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An¡¯aam: 121).

Coba kita bandingkan, lebih cerdas mana, antara orang jahiliyah dengan Nurcholish Madjid. Orang jahiliyah menghalalkan bangkai (membantah ayat Allah) dengan mengatakan sembelihan Allah pakai pisau emas tapi diharamkan sedang sembelihan manusia pakai pisau biasa malah dihalalkan. Dibanding perkataan Nurcholis Madjid, ¡°Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama¡±.

Bukankah anak kecil saja tahu, kalau as atau pusat roda itu tanpa ruji-ruji maka coplok? Apakah Tuhan akan coplok?

Betapa lebih bodohnya ketika dibandingkan dengan logika orang jahiliyah, yang perkataannya seolah masih logis. Itupun kalau diikuti, maka kita jadi orang musyrik, menurut Al-Qur¡¯an.

Sekarang marilah kita bandingkan, ¡°MKDU¡± Rasulullah saw dengan MKDU IAIN.

MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum)
Rasulullah saw mendidik sahabat-sahabatnya dengan
1. membacakan ayat-ayat Allah
2. membersihkan mereka dari syirik
3. mengajari mereka Al-Qur¡¯an dan As-Sunnah.

Kalau pendidikan Islam mau berhasil, mestinya MKDU-nya ya seperti yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw itu. Tetapi anehnya, justru MKDU rombakan Harun Nasution itu sama sekali jauh dari wahyu, jauh dari 3 hal yang dilaksanakan Rasulullah saw itu. Bahkan pengajarannya pun tidak merujuk kepada wahyu, karena memakai metode sosiologi agama model Barat dan antropoligi agama model Barat, yang menganggap agama itu hanya gejala masyarakat atau sekadar fenomena social. Akibatnya, pendidikan agama di IAIN, UIN, STAIN, STAIS itu terbalik. Mestinya, makin dididik makin tahu deteil-deteilnya perbedaan mengenai mana yang haq dan mana yang batil, tetapi justru menyamakan, hingga menyamakan antara Ahlus Sunnah dan Ahmadiyah, makanya tak mengherankan, rector UIN Jakarta, Azyumardi Azra, membela Ahmadiyah dan tidak terima atas fatwa MUI yang menilai sesatnya Ahmadiyah dan murtadnya pengikutnya. Bahkan akibat paling fatal, menyamakan Islam agama Tauhid dengan agama lain yang berisi kemusyrikan dan kekufuran. Ini pendidikan abnormal.

Materi Islam yang memang masih utuh dan perlu didakwahkan kepada masyarakat itu tidak dimiliki oleh para alumni IAIN ¨Ckecuali sebagian kecil yang rajin menuntut ilmu sendiri–, karena memang di perguruan tinggi yang labelnya Islam itu tidak menyajikannya sedemikian itu. Justru di sana disajikan pemikiran-pemikiran dan sejarah budaya, sebagai mata kuliah dasar, yang itu semua bukan materi Islam, dan cara mengajarkannya tanpa sanad (pertalian riwayat), hingga bukan mengikuti manhaj islami. Pengajarannya secara liar, yaitu dibebaskan berkomentar semau pikiran masing-masing. Tidak mengherankan kalau ada mahasiswa yang dengan lantang mengecam Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra dan sebagainya. Karena system pengajarannya tidak dirujukkan kepada Al-Qur¡¯an dan Assunnah, dan tidak pakai manhaj yang ditempuh para ulama salafus shalih. Bahkan ketika membicarakan pemikiran sekte-sekte sesat, misalnya Ahmadiyah yang mengangkat nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad pun tidak dirujukkan kepada Al-Qur¡¯an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, tetapi pakai pemahaman Ahmadiyah itu pula. Akibatnya, semua sekte sesat pun dianggapnya sah-sah saja. Dan itu kemudian ditingkatkan kepada pemikiran jenis tasawuf falsafi yang sampai menganggap alam ini perwujudan Tuhan, hingga menyembah patung pun dianggapnya menyembah Tuhan, karena patung itu perwujudan Tuhan. Faham wihdatul wujud ini jelas kufur. Dan itulah pemurtadan. Masih pula ditambah lagi dengan pemikiran filsafat, yang memasukkan Ar-Razi yang tak percaya kepada kenabian dan wahyu ke dalam mata kuliah filsafat Islam. Materi-materi yang memurtadkan itu diberi label Sejarah Pemikiran Islam, dan justru menjadi mata kuliah dasar, semua mahasiswa harus ikut. Dan kalau swasta harus ujian negeri. Akibatnya, ketika para alumni IAIN itu keluar, bergelar sarjana agama, master agama, dan doctor ilmu agama, mereka tidak berbekal materi Islam yang utuh ¨Cseperti uraian di atas–, tetapi hanya berbekal landasan pemikiran-pemikiran, sejarah budaya peradaban dan semacamnya. Hingga ketika dibutuhkan untuk menyajikan materi Islam yang utuh, mereka menggunakan logika-logika, bahkan ada yang pakai cerita-cerita rekaan dan duga-duga.

Ini bukan semata-mata kesalahan para alumni IAIN, namun adalah kesalahan system pengajaran, kurikulum, dan para dosennya. Karena system itu tampaknya diadopsi oleh Harun Nasution dan Mukti Ali (para petinggi di IAIN dan Departemen Agama masa lalu) dari orientalis Barat, sedang para dosen pengajarnya pun sebagian banyak asuhan orientalis di universitas-universitas Barat. Tambahan lagi, ketika kesalahan system itu didomplengi kepentingan-kepentingan yang arahnya justru menyamakan semua agama alias pluralisme agama, tidak membedakan Islam yang beraqidah Tauhid dengan yang lain berkeyakinan kekufuran, di situlah letak pemurtadannya.

Dalam masalah pendidikan tinggi Islam se-Indonesia ini kesalahan sistematis itu merupakan program yang dicanangkan dan dilaksanakan serta dibiayai. Pada gilirannya, masyarakat sudah mengetahui kesalahan fatal itu, lebih-lebih di dalam kalangan IAIN dan Departemen Agama itu sendiri, sebagian mereka sangat menyadari masalah ini.

Maka yang perlu dikembalikan adalah kurikulum, disesuaikan dengan apa yang dilaksanakan oleh Rasulullah, yang telah menghasilkan manusia-manusia terbaik. Berbeda dengan pendidikan IAIN, di antara hasilnya:

Meragukan keotentikan Al-Qur¡¯an (IAIN Jogja, tesis). Ada lagi sebuah tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), yang secara terang-terangan juga menghujat Mushaf Utsmani. Tesis itu sudah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, dan diberi kata pengantar dua orang doctor dalam bidang studi Islam, dosen di pascasarjana UIN Yogyakarta. Di dalam buku ini, misalnya, kita bisa menikmati hujatan terhadap al-Quran seperti kata-kata berikut ini: âŸetelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sacral dan absolute, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkekenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.¡±(Adian Husaini, Jakarta, 29 April 2005/Hidayatullah.com).

Menulis buku Indahnya Pernikahan Sesama Jenis.(IAIN Semarang, jurnal Justicia Fakultas Syari¡¯ah, dibukukan lagi, 2005).

Ajakan berdzikir dengan lafal anjing hu akbar di IAIN Bandung, dan dibela pihak rektorat dan dekan Fak Ushuluddin, Abdul Razaq.

Buat spanduk, Selamat dating di areal bebas Tuhan (IAIN Bandung).

Menikahkan orang muslimah dengan lelaki Nasrani (oleh dosen IAIN/ UIN Jakarta).

Menyalahkan ulama yang mengharamkan nikah beda agama, yakni lelaki muslim menikahi wanita konghuchu (pernyataan dosen IAIN Jakarta).

Menikahkan lelaki muslim dengan wanita Konghucu (dosen IAIN Jakarta).

Menulis buku Fiqih Lintas Agama (9 orang tim Paramadina, sebagian banyak dari IAIN Jakarta) berisi faham pluralisme agama dan menghalalkan muslimin muslimah nikah dengan orang beragama apapun dan aliran kepercayaan apapun.

Menganggap ayat-ayat Al-Qur¡¯an banyak yang salah (buku tulisan dosen IAIN Makassar).

Menganggap kalau yang masuk surga orang Islam saja maka bisa-bisa kesendirian, maka bias jadi tidak kerasan di surga. (Dosen IAIN Jogjakarta).

Membela aliran sesat Ahmadiyah dan menyanggah fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah. (rector UIN Jakarta, 2006).

Menganggap hadits sesoheh apapun, maka tetap relatif, karena Imam Bukhari sendiri tidak bisa yakin bahwa itu benar-benar dari Rasulullah saw. (Ibnu Hajar wakil rector IAIN Semarang. Lha kalau wakil rector IAIN Semarang ini shalat, pakai cara apa ya, apakah sekadar ngarang. Karena adanya tatacara shalat itu di hadits.).

Nasr Hamid Abu Zayd dengan metode hermeunetik, dalam hatinya tetap bermaksud baik. (Abu Hafsin, dosen IAIN Semarang. Kok tahu-tahunya apa yang di dalam hati orang, maka ketika bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN, Dr Abu Hafsin ini disanggah oleh Ridwan Saidi dari Jakarta, bahwa itu omongan tukang combro, tukang makanan murahan di Sunda dan Jakarta. Akibatnya, dosen IAIN Semarang yang liberal ini marah-marah).

Memberi kata pengantar buku terjemahan yang sangat menghujat Islam, buku Robert Morey, The Islamic Invation, Islam Dihujat. (Rektor IAIN Jakarta, Azyumardi Azra). Padahal buku itu, menurut Ketua MUI, Amidhan, lebih buruk penghinaannya terhadap Islam disbanding buku Salman Rushdie, The Satanic Verses, Ayat-ayat Syetan.

Deretan panjang yang mengusik Islam masih banyak, hasil dari tangan-tangan dosen maupun alumni dan bahkan mahasiswa IAIN di mana-mana. Majalah Syir¡¯ah yang mengkampanyekan pemurtadan, misalnya menyarankan agar orang tua merelakan anaknya murtad seperti yang disarankan Abdul Mouqshid Ghozali dosen UIN Jakarta, pun diasuh oleh orang-orang IAIN atau UIN atau STAIN atau alumninya.

Jalan keluar
Saran yang perlu disampaikan, kembalikanlah IAIN, UIN, STAIN, STAIS, dan Fakultas Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum ke pendidikan Islam yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Yaitu MKDU-nya berupa:

1. Membacakan ayat-ayat Allah.
2. Membersihkan mereka dari syirik.
3. Mengajari mereka Al-Qur¡¯an dan As-Sunnah.

a. Bukan seperti warisan Harun Nasution yang kini ditegaskan dengan penekanan pada sosio histories, yang artinya landasannya justru sejarah manusia itu sendiri. Masih pula materi MKDU-nya sejarah pemikiran Islam yang isinya tentang sekte-sekte, tasawuf, dan apa yang disebut filsafat Islam. Dan Sejarah Peradaban Islam atau Sejarah Kebudayaan Islam yang tanpa memperhatikan sanad hingga pengajarannya liar, mnegecam-ngecam sahabat Nabi SAW dan tidak merujuk kepada riwayat yang benar. Dua MKDU itu harus dirombak, karena dari situlah perusakan cara berfikir, dan dari situlah pemikiran mahasiswa diarahkan, lantaran semesternya bersambung-sambung, dan akhirnya diarahkan ke Pluralisme Agama. Paling kurang, berupa penjauhan dari wahyu, dan mengedepankan akal belaka. Dan itu awal kerusakannya.

b. Perlu diganti pula warisan berupa metode barat yang alergi merujuk kepada wahyu. Justru mestinya segalanya merujuk kepada wahyu.

c. Hendaknya disudahi warisan berupa menyusu kepada barat yang telah jelas-jelas tak sesuai dengan Islam. Hingga pembelajaran dosen-dosen untuk belajar Islam ke barat sudah saatnya dicabut, karena bahayanya sudah nyata.

d. INGAT, al-islamu ya¡¯luu walaa yu¡¯la. Islam itu unggul dan tak diungguli. Unggul karena materinya itu wahyu dari Allah swt. Sedang unggul pula dalam metodenya, karena sangat menghargai dan sangat teliti tentang periwayatan, sampai siapa-siapa periwayatnya itu sangat penting ditelusuri, untuk mengetahui sah tidaknya apa yang diriwayatkan. Karena ilmu Islam sangat berkaitan dengan pengamalan dari pembawanya. Orang yang berilmu namun tak mengamalkannya, maka tak diambil ilmunya, tak diambil periwayatannya. Maka benarlah, Islam ini unggul dan tidak dungguli. Baik materinya yang wahyu itu, maupun metodenya yang bukan sekadar menilik ilmunya tapi siapa pembawanya, terpercaya dan mengamalkan ilmunya atau tidak. Kalau tidak, maka tidak diambil ilmunya.

e. Kenapa sekarang orang-orang yang mestinya ditindak karena sudah mengadakan pelanggaran berat terhadap Islam seperti menikahkan muslimah dengan lelaki non Islam malah tetap dijadikan dosen? Kenapa yang menganggap Al-Qur¡¯an banyak ayatnya yang salah, malah diberi kata pengantar?

Mau dibawa kemana IAIN ini? Fa aina Tadzhabun?

الرد على البكري ج: 1 ص: 137

عون المعبود ج: 8 ص: 10

وإن الشياطين ليوحون أي يوسوسون إلى أوليائهم أي الكفار وبعده ليجادلوكم أي في تحليل الميتة وإن أطعمتموهم إنكم لمشركون

وأخرج ابن جرير عن ابن عباس قال نزلت ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه أرسلت فارس إلى قريش أن خاصموا محمدا فقالوا له ما تذبح أنت بيدك بسكين فهو حلال وما ذبح الله بنمسار من ذهب يعني الميتة فهو حرام فنزلت هذه الآية وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم قال الشياطين من فارس وأولياؤهم

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://militan.blogsome.com/2006/11/23/iain-fa-aina-tadzhabun/trackback/

  1. bagus isinya, salut untuk akang yang posting. Isinya membuat hati tergugah. tapi kang, mau nanya….fa aina tadzhabun itu artinya begitu ya kang???maaf..

    Comment by mustaqim — April 20, 2008 @ 1:19 pm

  2. JIL (jaringan Iprit Linglung)

    Comment by wahyu — August 22, 2008 @ 7:39 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>